RSS

Hectic Batik!


Batik “naik kelas”! Masyarakat sekarang tidak enggan lagi memakainya. Tidak hanya di kalangan orang tua saja, mahasiswa juga menyemarakkan kampus dengan memakai batik. Acara-acara seperti seminar maupun pentas seni di kampus sekarang mewajibkan panitianya untuk memakai batik. Bahkan beberapa HMJ di kampus kita pun mulai mewajibkan mahasiswanya untuk memakai batik di hari tertentu atau biasa disebut dengan ‘Batik Day’. Contohnya EDSA, HMJ sastra Inggris ini mengharuskan mahasiswa Sastra Inggris untuk memakai batik pada hari rabu. “Paling tidak mereka memakai atribut yang berbau batik,” tutur Desita, mahasiswi Sastra Inggris dan salah satu pengurus EDSA. Langkah EDSA ini belakangan diikuti oleh HMJ lain seperti S1 Ilmu Perpustakaan yang mengadakan ‘Batik Day’ setiap hari Jum’at dan jurusan Sastra Indonesia setiap hari Kamis.

EDSA sebagai pencetus “Batik Day” di kampus Fakultas Ilmu Budaya berusaha untuk lebih mendekatkan batik kepada mahasiswa sebagai generasi muda. Dengan kedekatan itu diharapkan akan tumbuh kesadaran tinggi terhadap hasil budaya bangsa sendiri. “Sejak banyak budaya kita diklaim negara lain, kami berusaha mengeksistensikan batik sebagai warisan budaya dengan cara mengenakan batik di kampus.” Ungkap Desita lagi.

Memang klaim sepihak Malaysia atas batik beberapa waktu yang lalu sontak menyulut nasionalisme kebudayaan di semua kalangan termasuk mahasiswa. Hal ini membuat masyarakat kita terpancing untuk lebih peduli dengan budaya warisan para pendahulu. Para aktivis dan pemerhati batik mendesak pemerintah untuk segera turun tangan, setidaknya meminta pengakuan dunia bahwa batik adalah budaya Indonesia. Harapan itu kemudian menjadi kenyataan setelah UNESCO meresmikan batik sebagi ‘World Heritage’ dari Indonesia, 2 Oktober lalu di Abu Dhabi.

Batik sudah “naik kelas”, Malaysia sudah diam dan UNESCO pun sudah mengakuinya sebagai budaya Indonesia. Namun perjuangan belum selesai karena era globalisasi sekarang ini akan menguji seberapa kuat kita menghadapi laju zaman dan gerusannya. Tantangan bagi generasi penerus adalah mempertahankan budaya kebanggaan kita ini karena batik butuh perhatian khusus agar lebih memasyarakat. Pertanyaannya sekarang, Sampai kapan kita akan tetap menjunjung tinggi warisan leluhur, apakah hectic ini sekedar ‘shock culture’ sesaat saja? Bisakah kita menjadi tuan rumah bagi produk kita sendiri? Tugas kita generasi muda!


Your Comment