RSS

Batik Semarang Sebagai Salah Satu Warisan Budaya Bangsa

Jawa Tengah adalah pusatnya batik. Itu adalah kesan yang ditangkap pertama kali oleh kebanyakan orang. Hal itu bukan omong kosong belaka. Mulai dari Tegal, Pekalongan sampai Lasem di pantura (pantai utara Jawa) serta Solo, Yogyakarta hingga Kebumen di sebelah selatan merupakan daerah penghasil batik, dan semuanya mempunyai ciri khas masing-masing. Semarang sebagai ibukota Jawa Tengah juga bisa disebut daerah penghasil batik. Salah satu penghasil batik di Semarang adalah Kampung Batik. Kampung batik sudah berdiri sejak zaman prakemerdekaan, namun kedatangan Jepang ke Kota Semarang, mereka malah membumihanguskan Kampung Batik. Iin sebagai salah satu perajin batik di kampung batik semarangpun mengatakan ”menurut yang saya baca dari peneliti batik Semarang, disini memang banyak perajin batik, namun tidak seperti pengrajin-pengrajin batik di solo. Mereka rata-rata membuat batik berkisar 1-2 lembar kain. Pada masa penjajahan Jepang Kampung Batik dibumihanguskan hingga tak tersisa rumah-rumahnya.” Pakar sejarah Universitas Diponegoro Semarang, Dr. Dewi Yuliawati  menambahkan ”Dahulu ada konflik antara pemuda di Kampung Batik dan orang-orang Jepang yang bermarkaskan di dekat Kampung Bubakan, kemudian Kampung Batik dibakar oleh Jepang sehingga semua jadi musnah.” ”Untuk pengrajinnya sendiri yang sekarang termasuk baru, jadi waktu dibumihanguskan sampai tak tersisa rumah jadinya orang-orang banyak yang melarikan diri, setelah dirasa aman mereka baru mendirikan kampung itu lagi, tetapi tidak ada yang meneruskan batik sampai pada tahun 2006 mulai lagi ada dengan diadakannya pelatihan membatik ” tutur Iin dari sumber yang dia baca.

Perkembangan Batik Semarang

Untuk membangkitkan kembali batik Semarang atas prakarsa kerjasama Unversitas Diponegoro dengan Pemkot Semarang Dewan Kerajinan Nasional Daerah Kota Semarang, dimana dahulu Kampung Batik merupakan sentra kerajinan batik sehingga pemkot ingin menghidupkan kembali Kampung Batik sebagai sentra kerajinan batik. Disitu pula Bu Dewi dan Bu Ngesti dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro pernah mengadakan pelatihan membatik yang pesertanya diambil dari daerah sekitar dengan jumlah 20 peserta, padahal jumlah peserta yang mendaftar lebih dari 20. Dari 20 peserta itu melahirkan perajin-perajin yang salah satunya adalah Iin Widhi Indah Cahyani.

Iin Widhi Indah Cahyani adalah salah satu pengrajin batik di Kampung Batik dengan nama ”Batik Semarang Indah” yang terletak di Jl. Kp Batik Gedong No. 437 Semarang Barat, sedangkan workshopnya bertempat di Bukit Manyaran Permai. Iin menggeluti bisnis batik itu sejak Agustus 2006 dimana sebelum merintis bisnis itu ia adalah seorang ibu rumah tangga. Awal mulanya ketertarikannya untuk berbisnis batik yaitu ”Pada waktu itu dari Ibu Wali Kota ada keinginan untuk membangkitkan kembali batik semarang yang katanya memang dahulu ada dan kebetulan diadakan di Kampung Batik, saat itu saya berstatus sebagai ibu rumah tangga tinggal di rumah lalu diajak untuk ikut pelatihan membatik. Kemudian saya ikut, setelah saya tahu bagaimana proses membatik, muncul keinginan untuk ikut melestarikan budaya bangsa dan saya berfikir ini bisa menjadi peluang usaha” ungkap Iin.

Motif batik Semarang banyak mendapat pengaruh campuran budaya antara lain Cina, Eropa, India sehingga mempengaruhi pembatik dalam mengekspresikan karyanya, terutama orang Cina (Tionghoa) dan Eropa. Pengaruh budaya Cina dalam motif batik semarang menyimbolkan binatang-binatang, seperti burung merak, naga, burung hong, burung seripi (walet). Batik Semarang disebut juga batik pesisiran. ”Motif pesisiran ini banyak dipengaruhi oleh kaum Cina (Tionghoa) yang antara lain adalah motif burung punik. Dalam motif batik semarang ada kaitannya dengan islamisasi pada masa itu karena ada beberapa yang menyatakan ini adalah batik Islami, berarti batik Islam yang tidak menggambarkan makhluk hidup, seperti dalam Masjid Mantingan Jepara ada relief yang menggambarkan burung, kera dan binatang-binatang lain yang disamarkan karena dalam Hadist Bukhari Muslim dikatakan bahwa seniman itu dilarang menggambarkan makhluk hidup, karena jika menggambarkan makhluk hidup harus memberi nyawa,” tutur Ngesti Lestari Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro dan juga peneliti batik semarang.

”Motif batik semarang sendiri mendapat pengaruh dari Cina tetapi dalam penggambarannya itu berbeda. Kalau Lasem penggambaran motifnya kecil-kecil, sedangkan batik semarang motifnya besar-besar dan seperti cerita bergambar dan ada unsur-unsur ceritanya. Sedangkan warnanya cenderung merah, orange dan biru” lanjut Iin.

Sejatinya bahan baku pewarna batik yang baik yaitu bahan baku alami. ”Zaman dahulu pengrajin batik banyak yang menggunakan bahan alami, namun karena untuk mempersingkat waktu pembuatan dan untuk mengawetkan kain lama kelamaan menjadi sintetis. Sebenarnya Semarang juga awal mulanya digalakkan ke alam, tetapi jika melihat pangsa pasar dengan bahan alami itu hanya untuk kalangan menengah ke atas, jadi harganyapun tidak bisa murah karena proses pembuatannya juga lama” kata Iin.

Iin sebagai pengrajin batik yang terbilang awal juga menyadari akan kesulitannya dalam memproduksi batik menggunakan bahan alami. ”Karena kita ini pengrajin awal, kalo kita ngejar alam kapan akan punya stok banyak, sedangkan tenaga kerjanya terbatas” ungkap Iin. Tenaga kerja atau SDM menjadi faktor kedua terpenting setelah modal dalam melakukan proses produksi. Penggunaan bahan sintesis menurutnya untuk mengejar waktu dan juga untuk mengejar harga pangsa pasar untuk kalangan menengah ke bawah. Penggunaan bahan sintesisnyapun ia gunakan sintesis yang aman, hal ini juga agar tidak terlalu lama memakan waktu untuk proses produksi dan juga untuk menekan harga. Namun Iin sendiri juga memiliki keinginan untuk memproduksi batik dengan bahan alami.

Motif unggulan dari Batik Semarang Indah yang telah dipatenkan yaitu motif Asem Baris dan Parang Semarang. Motif batik yang Iin produksi bisa digunakan untuk dewasa dan anak-anak. Iin juga selalu mempertahankan kualitas batiknya karena ia ingin memberikan yang terbaik bahkan ia memberikan garansi bila terdapat kecacatan maupun warna luntur. Selain itu Iin juga menerima kritik dan saran dari konsumen maupun pengrajin batik lainnya. Dalam menjaga kualitasnya Iin menuturkan ”Jangan sampai saya kalah dalam kualitas dan harga. Dalam menentukan harga saya juga melihat dari pembatik-pembatik lainnya, jadi saya tidak asal-asalan membuat dan menentukan harga.”

Proses pembuatan batik cap  membutuhkan waktu 2-3hari dengan kapasitas 5-10 kain, sedangkan untuk batik tulis paling cepat yaitu satu minggu tergantung dari motif dan tenaga kerjanya. Berarti dalam satu bulan untuk batik cap bisa mencapai 50-100 lembar kain, sedangkan untuk batik tulis hanya 25-50 lembar kain. Iin belum mengekspor produksi batiknya ke luar negeri karena menurutnya untuk memenuhi pangsa di negara sendiri saja kewalahan, apalagi bila di ekspor juga. Keterbatasan tenaga kerja adalah yang menjadi penyebab dirinya belum niat untuk mengekspor, dengan jumlah tenaga kerja yang hanya + 9 orang yang berasal dari Kampung Batik, Bukit Manyaran Permai dan juga didominasi oleh keluarganya.

Keberhasilan Bu Iin dalam memproduksi batik tak lepas dari tangan Bu Umi sebagai pelatih pemiliki Batik Semarang 16 selain itu juga Bu Umi telah membantu Bu Iin dalam promosi, seperti ketika Bu Umi mendapat fasilitas dari pemerintah untuk pameran, Bu Iin diajak serta olehnya.

Ilmu yang Iin dapatkan tak semata-mata untuk dirinya sendiri, dia selalu terbuka untuk berbagi pengalaman. Ada sebuah paguyuban batik Semarang dimana itu merupakan wadah pelatihan batik secara gratis. Iin juga melakukan pelatihan batik pada anak-anak SD dengan tujuan untuk memperkenalkan batik pada anak-anak, supaya mereka bisa menghargai batik karena jika diperkenalkan dari kecil maka dewasanya akan lebih menghargai bagaimana susahnya membuat batik.

Secara umum Iin belum melakukan promosi, namun karena batik semarang sedang membumi jadi langsung ’diblow up’ jadi secara tidak langsung juga dipromosikan oleh mereka-mereka. Iin juga sering diajak pameran oleh orang Tionghoa dari itu pula orang banyak yang tahu dari kartu namanya. Batik Semarang sekarang banyak mendapatkan bantuan dari Pemerintah, diantaranya bantuan pameran dan bantuan promosi.

Dengan adanya ketetapan dari Pemerintah bahwa pada tahun 2010 setiap pegawai negri maupun swasta diwajibkan untuk memakai batik dari daerah asal. Iin sebagai pengrajin batik menuturkan ada kebanggaan tersendiri jika ketetapan tersebut benar-benar terlaksana.

Perbedaan Batik Pesisir dengan Batik Pedalaman

Berdasarkan pengaruhnya, batik pesisir dipengaruhi oleh unsur budaya Cina, Eropa dan India, seperti motif burung punik. Sedangkan batik pedalaman banyak dipengaruhi oleh unsur-unsur budaya Keraton. Dilihat dari segi warnanya, batik pesisir khususnya Semarang menurut Dr. Dewi Yuli Wati, karena ada pengaruh-pengaruh Cina, Eropa dan India jadi menggunakan warna-warna lebh mencolok seperti orange, merah, biru. Sedangkan batik pedalaman lebih mempertahankan warna sogan seperti coklat agak kekuningan, krem, kuning kecoklatan dan mempertahankan warna alam sehingga menggunakan bahan-bahan alami lebih natural.(Nurul Hikmah, Ponco Wiyono, Sandy Tria Putra, Kinanti Larasati)


Your Comment