<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>lpmhayamwuruk.com</title>
	<atom:link href="http://lpmhayamwuruk.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://lpmhayamwuruk.com</link>
	<description>LPM Hayam Wuruk</description>
	<lastBuildDate>Tue, 06 Jul 2010 14:37:36 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Jangan Biarkan Penyesalan Merenggutmu</title>
		<link>http://lpmhayamwuruk.com/?p=20</link>
		<comments>http://lpmhayamwuruk.com/?p=20#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Jun 2010 05:18:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lpmhayamwuruk.com/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[tak bisa kita pungkiri hidup di dunia ini akan memberi dampak dua hal, positif dan negatif. dua hal ini sebenarnya diciptakan, dibuat dan diolah oleh pribadi kita masing-masing. itulah kenapa sering disebut hidup itu pilihan, ya itu tadi, harus memilih yang baik atau yang buruk. keduanya ibarat kutub yang saling tarik-menarik, pengaruhnya dirasakan mampu membawa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>tak bisa kita pungkiri hidup di dunia ini akan memberi dampak dua hal, positif dan negatif. dua hal ini sebenarnya diciptakan, dibuat dan diolah oleh pribadi kita masing-masing. itulah kenapa sering disebut hidup itu pilihan, ya itu tadi, harus memilih yang baik atau yang buruk. keduanya ibarat kutub yang saling tarik-menarik, pengaruhnya dirasakan mampu membawa manusia menjongkok di liang kenegatifan atau mencapai keselarasan dengan menggamit hal positif.</p>
<p>positif dan negatif disini tidaklah mutlak, ia saling berbagi dan melengkapi, cuma yang manakah pembagiannya lebih besar? itu yang menjadi pertanyaan. Manusia sering terjebak dengan &#8220;ketidaksempurnaan&#8221; dirinya untuk memberi toleansi dan kompensasi berlebihan akan kesalahan atau hal negatif yang dimilikinya, selebihnya menganggap remeh dengan segenap aturan nilai, tatanan, kaidah, pranata sosial, dan berbagai macam hukum tertulis dan tidak, termasuk yang tertinggi yaitu hukum Tuhan.</p>
<p>kesalahan memang harus dimaknai sebagai kesalahan yang memang murni harus dirasakan benar-benar kesalahan terhadap diri, agar sebuah rasa muncul, yakni &#8220;penyesalan&#8221;. penyesalan akan kesalahan memang harus secara hakiki di dapat ketika seseorang memang &#8220;terlanjur&#8221; atau sudah terjebak dengan kesalahan. perasaan ini semakin mendorongnya untuk sadar akan kesalahannya secara mendalam. Bukan sekedar mengatakan &#8220;Aku sadar aku salah&#8221; harus ada konsekwensi logis dari kesadaran itu, dan itulah perlunya penyesalan agar ianya dapat bulat menjadi kesadaran yang penuh.</p>
<p>namun, penyesalan menjadi lucu jika hanya akan membuat pelarutan yang lama tanpa &#8220;kesadaran yang memperbaiki&#8221;. ya, itulah inti dari kesadaran, harus bersikap memperbaiki apa yang telah salah. jika hanya sekedar kesadaran, apalah artinya, itu ibarat seremonial ketika petang dan senja datang, lalu seketika menghilang. kesadaran harus menjadi waktu, harus menjadi sinar yang terang sehingga seluruh muka rupanya terlihat dan sedikit demi sedikit mengambil kotoran yang menempel di tubuhnya itu.</p>
<p>kenapa saya menulis judul catatan ini &#8220;Jangan Biarkan Penyesalan Merenggutmu&#8221; adalah bermaksud hampir mirip dengan yang di atas, namun secara lebih jelas, penyesalan yang ada butuh tindak lanjuk yang membalikkan kesalahan menjadi perbaikan (seperti di atas). penyesalan yang merenggut adalah penyasalan yang malah berkonotasi negatif, penyesalan yang membuat diri jatuh pada titik &#8220;nol&#8221; hingga merasa &#8220;tak pantas&#8221;.</p>
<p>nah, perasaan &#8220;tak pantas&#8221; baik itu dalam kata<br />
&#8220;tak pantas hidup lagi&#8221;<br />
&#8220;tak pantas dihatimu lagi&#8221;<br />
&#8220;tak pantas menjadi hambamu lagi&#8221;<br />
&#8220;tak pantas memilikimu lagi&#8221;<br />
adalah sedikit contoh penyesalan yang menimbulkan perasaan &#8220;tak pantas&#8230;&#8221; yang paling berbahaya adalah yang paling atas, membuat frustasi yang hebat yang pada akhirnya memutuskan untuk bunuh diri. ironis bukan. namun, begitulah hidup, semua saling berpapasan dengan lawan dari yang ada, saling tubrukan nilai, dan saling melengkapi.</p>
<p>konsep penyesalan harus ditegaskan lagi menjadi &#8220;langkah bangkit&#8221; bukan &#8220;jatuh ke titik nol&#8221;. menjadikannya langkah bangkit akan menimbulkan efek kekuatan yang bahkan tak disangka dari tubuh dan mentalnya, bahkan olehnya sendiri. betapa banyak orang yang melakukan percepatan dan perubahan hebat setelah mengalami kesalahan, lalu menyesal dan melakukan perbaikan. ejekan dianggapnya pemantik yang semakin mengobarkan energi tersembunyi dalam dirinya.</p>
<p>indah bukan sahabat, bila kita semaksimal mungkin mengarahkan pilihan pada yang jerni &#8220;positif&#8221; walau tak menampik kita pasti mencatat sejarah titik &#8220;negatif&#8221;. ianya perlu perlawanan, dan kau harus semakin menjorok ke kanan&#8230;</p>
<p>dan siapa yang ketika sedang mengalami penyesalan ketika membaca tulisan saya ini, segera tangkap nilainya, dan cari pemantik energi dalam tubuhmu. lihatlah apa yang akan kau peroleh dari penyesalan itu&#8230; amazing</p>
<p>salam Kampung Karya<br />
Qur&#8217;anul Hidayat<br />
30 Juni 2010<a href="http://lpmhayamwuruk.com/wp-content/uploads/2010/06/positive-negative-thinking-thumb85592121.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-22" title="positive-negative-thinking-thumb8559212" src="http://lpmhayamwuruk.com/wp-content/uploads/2010/06/positive-negative-thinking-thumb85592121.jpg" alt="" width="300" height="300" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lpmhayamwuruk.com/?feed=rss2&amp;p=20</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Raker X Hayamwuruk</title>
		<link>http://lpmhayamwuruk.com/?p=17</link>
		<comments>http://lpmhayamwuruk.com/?p=17#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Jun 2010 10:52:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lpmhayamwuruk.com/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[

 Salatiga, 8-9 Mei 2010. Dingin yang merasuk dalam tulang tiap peserta raker X hayamwuruk tak menyurutkan api semangat dalam agenda terakhir hayamwuruk periode 2009/2010. Acara yang berlangsung selama 2 hari 1 malam di Wisma Wijaya Kusuma Kopeng, Salatiga berlangsung hikmat dan tertib dihadiri oleh para pengelola HaWe, dan magang 2008 dan 2009. Perjalanan yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong> </strong>Salatiga, 8-9 Mei 2010. Dingin yang merasuk dalam tulang tiap peserta raker X hayamwuruk tak menyurutkan api semangat dalam agenda terakhir hayamwuruk periode 2009/2010. Acara yang berlangsung selama 2 hari 1 malam di Wisma Wijaya Kusuma Kopeng, Salatiga berlangsung hikmat dan tertib dihadiri oleh para pengelola HaWe, dan magang 2008 dan 2009. Perjalanan yang memakan waktu ­<span style="text-decoration: underline;">+</span> 1 ½ jam dari kampus FIB Undip terasa tak melelahkan karena diberi hidangan berupa pemandangan alam yang memberikan kesejukan dan kenyamanan dalam jiwa tiap-tiap yang merasakannya.</p>
<p>Setibanya di Wisma Wijaya Kusuma Kopeng, Salatiga para peserta langsung dihidangkan dengan menu <em>breakfast</em> yang dilanjutkan dengan pembukaan acara Raker X oleh Sie Acara sekaligus sebagai presidium sementara yang membahas mengenai peraturan atau tata tertib raker. Kemudian dilanjutkan dengan pemilihan presidium tetap. Tepat pukul 10.30 WIB dikupas habis tentang Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) dari Pimpinan Umum yaitu Erwin Wicaksono, dilanjutkan oleh Pimpinan Redaksi yaitu Eka Harisma, kemudian Nurani Puspitosari sebagai sekretaris umum dan Zumala Nahari sebagai kepala perusahaan.</p>
<p>Peraturan yang telah disepakati diawal acara termasuk jadwal acara harus dipatuhi keberadaannya, sehingga pukul 13.00 pembahasan LPJ dari tiap orang-orang terpilih itu ditunda sampai batas waktu yang ditetapkan. Pukul 16.00 para peserta berkumpul kembali untuk melanjutkan pembahasan LPJ yang sempat tertunda. Suasana menjadi semakin dingin dengan suhu udara yang tak terkira, namun tidak melemahkan proses berfikir dari para peserta untuk saling melontarkan tanggapan, sanggahan maupun saran. Sempat terbesit dalam pikiran salah satu peserta ”disaat-saatnya suasana sedang panas, namun harus terbatasi oleh waktu.”</p>
<p>Waktu ishoma telah habis, pembahasan buku putih dilanjutkan hingga <span style="text-decoration: underline;">+ </span>pukul 02.00. perjalanan untuk menyelesaikan pembahasan buku putih diwarnai dengan tingkah peserta yang telah menampakkan wajah-wajah tak berseri hingga presidium tetap harus menggembar-gemborkan peserta untuk tetap semangat dan bersegera menyelesaikan pembahasan itu.</p>
<p>Tibalah saatnya setelah semalaman beradu pendapat dan diistirahatkan pukul 02.00, peserta melanjutkan agenda pada pukul 09.00 dalam agenda pembentukan kepengurusan baru periode 2010/2011. Dari sekian banyak pengelola periode 2009/2010 hanya Dian Hijriyanti yang bertahan untuk tetap stay di kepengurusan selanjutnya. Setelah dilakukan jajak pendapat hingga sesi pelemahan dan penguatan, tibalah saatnya peserta untuk menimbang-menimbang dan memilih sesuai hati masing-masing terhadap calon Pemimpin Umum, Pemimpin Redaksi, Sekretaris Umum, Kepala Litbang dan Kepala Perusahaan. Setelah dilakukan pengumpulan suara terpilihlah Sandi Triaputra sebagai Pemimpin Umum, Nurul Hikmah sebagai Pimpinan Redaksi, Desta Ayu Wulandari sebagai Sekretaris Umum, Ponco Wiyono sebagai Kepala Litbang dan Kinanti Larasati sebagai Kepala Perusahaan. Semoga kepengurusan periode 2010/2011 bisa mengemban amanahnya dengan baik dan lebih baik dari kepengurusan sebelumnya. Amin..</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"> </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lpmhayamwuruk.com/?feed=rss2&amp;p=17</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Batik Semarang Sebagai Salah Satu Warisan Budaya Bangsa</title>
		<link>http://lpmhayamwuruk.com/?p=11</link>
		<comments>http://lpmhayamwuruk.com/?p=11#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Jun 2010 09:49:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lpmhayamwuruk.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[ 

Jawa Tengah adalah pusatnya batik. Itu adalah kesan yang ditangkap pertama kali oleh kebanyakan orang. Hal itu bukan omong kosong belaka. Mulai dari Tegal, Pekalongan sampai Lasem di pantura (pantai utara Jawa) serta Solo, Yogyakarta hingga Kebumen di sebelah selatan merupakan daerah penghasil batik, dan semuanya mempunyai ciri khas masing-masing. Semarang sebagai ibukota Jawa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p><strong></strong></p>
<p>Jawa Tengah adalah pusatnya batik. Itu adalah kesan yang ditangkap pertama kali oleh kebanyakan orang. Hal itu bukan omong kosong belaka. Mulai dari Tegal, Pekalongan sampai Lasem di pantura (pantai utara Jawa) serta Solo, Yogyakarta hingga Kebumen di sebelah selatan merupakan daerah penghasil batik, dan semuanya mempunyai ciri khas masing-masing. Semarang sebagai ibukota Jawa Tengah juga bisa disebut daerah penghasil batik. Salah satu penghasil batik di Semarang adalah <em>Kampung Batik. </em>Kampung batik sudah berdiri sejak zaman prakemerdekaan, namun kedatangan Jepang ke Kota Semarang, mereka malah membumihanguskan Kampung Batik. Iin sebagai salah satu perajin batik di kampung batik semarangpun mengatakan ”menurut yang saya baca dari peneliti batik Semarang, disini memang banyak perajin batik, namun tidak seperti pengrajin-pengrajin batik di solo. Mereka rata-rata membuat batik berkisar 1-2 lembar kain. Pada masa penjajahan Jepang Kampung Batik dibumihanguskan hingga tak tersisa rumah-rumahnya.” Pakar sejarah Universitas Diponegoro Semarang, Dr. Dewi Yuliawati  menambahkan ”Dahulu ada konflik antara pemuda di Kampung Batik dan orang-orang Jepang yang bermarkaskan di dekat Kampung Bubakan, kemudian Kampung Batik dibakar oleh Jepang sehingga semua jadi musnah.” ”Untuk pengrajinnya sendiri yang sekarang termasuk baru, jadi waktu dibumihanguskan sampai tak tersisa rumah jadinya orang-orang banyak yang melarikan diri, setelah dirasa aman mereka baru mendirikan kampung itu lagi, tetapi tidak ada yang meneruskan batik sampai pada tahun 2006 mulai lagi ada dengan diadakannya pelatihan membatik ” tutur Iin dari sumber yang dia baca.</p>
<p><strong>Perkembangan Batik Semarang</strong></p>
<p><strong> </strong>Untuk membangkitkan kembali batik Semarang atas prakarsa kerjasama Unversitas Diponegoro dengan Pemkot Semarang Dewan Kerajinan Nasional Daerah Kota Semarang, dimana dahulu Kampung Batik merupakan sentra kerajinan batik sehingga pemkot ingin menghidupkan kembali Kampung Batik sebagai sentra kerajinan batik. Disitu pula Bu Dewi dan Bu Ngesti dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro pernah mengadakan pelatihan membatik yang pesertanya diambil dari daerah sekitar dengan jumlah 20 peserta, padahal jumlah peserta yang mendaftar lebih dari 20. Dari 20 peserta itu melahirkan perajin-perajin yang salah satunya adalah Iin Widhi Indah Cahyani.</p>
<p>Iin Widhi Indah Cahyani adalah salah satu pengrajin batik di Kampung Batik dengan nama ”Batik Semarang Indah” yang terletak di Jl. Kp Batik Gedong No. 437 Semarang Barat, sedangkan workshopnya bertempat di Bukit Manyaran Permai. Iin menggeluti bisnis batik itu sejak Agustus 2006 dimana sebelum merintis bisnis itu ia adalah seorang ibu rumah tangga. Awal mulanya ketertarikannya untuk berbisnis batik yaitu ”Pada waktu itu dari Ibu Wali Kota ada keinginan untuk membangkitkan kembali batik semarang yang katanya memang dahulu ada dan kebetulan diadakan di Kampung Batik, saat itu saya berstatus sebagai ibu rumah tangga tinggal di rumah lalu diajak untuk ikut pelatihan membatik. Kemudian saya ikut, setelah saya tahu bagaimana proses membatik, muncul keinginan untuk ikut melestarikan budaya bangsa dan saya berfikir ini bisa menjadi peluang usaha” ungkap Iin.</p>
<p>Motif batik Semarang banyak mendapat pengaruh campuran budaya antara lain Cina, Eropa, India sehingga mempengaruhi pembatik dalam mengekspresikan karyanya, terutama orang Cina (Tionghoa) dan Eropa. Pengaruh budaya Cina dalam motif batik semarang menyimbolkan binatang-binatang, seperti burung merak, naga, burung hong, burung seripi (walet). Batik Semarang disebut juga batik pesisiran. ”Motif pesisiran ini banyak dipengaruhi oleh kaum Cina (Tionghoa) yang antara lain adalah motif burung punik. Dalam motif batik semarang ada kaitannya dengan islamisasi pada masa itu karena ada beberapa yang menyatakan ini adalah batik Islami, berarti batik Islam yang tidak menggambarkan makhluk hidup, seperti dalam Masjid Mantingan Jepara ada relief yang menggambarkan burung, kera dan binatang-binatang lain yang disamarkan karena dalam Hadist Bukhari Muslim dikatakan bahwa seniman itu dilarang menggambarkan makhluk hidup, karena jika menggambarkan makhluk hidup harus memberi nyawa,” tutur Ngesti Lestari Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro dan juga peneliti batik semarang.</p>
<p>”Motif batik semarang sendiri mendapat pengaruh dari Cina tetapi dalam penggambarannya itu berbeda. Kalau Lasem penggambaran motifnya kecil-kecil, sedangkan batik semarang motifnya besar-besar dan seperti cerita bergambar dan ada unsur-unsur ceritanya. Sedangkan warnanya cenderung merah, orange dan biru” lanjut Iin.</p>
<p>Sejatinya bahan baku pewarna batik yang baik yaitu bahan baku alami. ”Zaman dahulu pengrajin batik banyak yang menggunakan bahan alami, namun karena untuk mempersingkat waktu pembuatan dan untuk mengawetkan kain lama kelamaan menjadi sintetis. Sebenarnya Semarang juga awal mulanya digalakkan ke alam, tetapi jika melihat pangsa pasar dengan bahan alami itu hanya untuk kalangan menengah ke atas, jadi harganyapun tidak bisa murah karena proses pembuatannya juga lama” kata Iin.</p>
<p>Iin sebagai pengrajin batik yang terbilang awal juga menyadari akan kesulitannya dalam memproduksi batik menggunakan bahan alami. ”Karena kita ini pengrajin awal, kalo kita ngejar alam kapan akan punya stok banyak, sedangkan tenaga kerjanya terbatas” ungkap Iin. Tenaga kerja atau SDM menjadi faktor kedua terpenting setelah modal dalam melakukan proses produksi. Penggunaan bahan sintesis menurutnya untuk mengejar waktu dan juga untuk mengejar harga pangsa pasar untuk kalangan menengah ke bawah. Penggunaan bahan sintesisnyapun ia gunakan sintesis yang aman, hal ini juga agar tidak terlalu lama memakan waktu untuk proses produksi dan juga untuk menekan harga. Namun Iin sendiri juga memiliki keinginan untuk memproduksi batik dengan bahan alami.</p>
<p>Motif unggulan dari Batik Semarang Indah yang telah dipatenkan yaitu motif Asem Baris dan Parang Semarang. Motif batik yang Iin produksi bisa digunakan untuk dewasa dan anak-anak. Iin juga selalu mempertahankan kualitas batiknya karena ia ingin memberikan yang terbaik bahkan ia memberikan garansi bila terdapat kecacatan maupun warna luntur. Selain itu Iin juga menerima kritik dan saran dari konsumen maupun pengrajin batik lainnya. Dalam menjaga kualitasnya Iin menuturkan ”Jangan sampai saya kalah dalam kualitas dan harga. Dalam menentukan harga saya juga melihat dari pembatik-pembatik lainnya, jadi saya tidak asal-asalan membuat dan menentukan harga.”</p>
<p>Proses pembuatan batik cap  membutuhkan waktu 2-3hari dengan kapasitas 5-10 kain, sedangkan untuk batik tulis paling cepat yaitu satu minggu tergantung dari motif dan tenaga kerjanya. Berarti dalam satu bulan untuk batik cap bisa mencapai 50-100 lembar kain, sedangkan untuk batik tulis hanya 25-50 lembar kain. Iin belum mengekspor produksi batiknya ke luar negeri karena menurutnya untuk memenuhi pangsa di negara sendiri saja kewalahan, apalagi bila di ekspor juga. Keterbatasan tenaga kerja adalah yang menjadi penyebab dirinya belum niat untuk mengekspor, dengan jumlah tenaga kerja yang hanya <span style="text-decoration: underline;">+ </span> 9 orang yang berasal dari Kampung Batik, Bukit Manyaran Permai dan juga didominasi oleh keluarganya.</p>
<p>Keberhasilan Bu Iin dalam memproduksi batik tak lepas dari tangan Bu Umi sebagai pelatih pemiliki Batik Semarang 16 selain itu juga Bu Umi telah membantu Bu Iin dalam promosi, seperti ketika Bu Umi mendapat fasilitas dari pemerintah untuk pameran, Bu Iin diajak serta olehnya.</p>
<p>Ilmu yang Iin dapatkan tak semata-mata untuk dirinya sendiri, dia selalu terbuka untuk berbagi pengalaman. Ada sebuah paguyuban batik Semarang dimana itu merupakan wadah pelatihan batik secara gratis. Iin juga melakukan pelatihan batik pada anak-anak SD dengan tujuan untuk memperkenalkan batik pada anak-anak, supaya mereka bisa menghargai batik karena jika diperkenalkan dari kecil maka dewasanya akan lebih menghargai bagaimana susahnya membuat batik.</p>
<p>Secara umum Iin belum melakukan promosi, namun karena batik semarang sedang membumi jadi langsung ’diblow up’ jadi secara tidak langsung juga dipromosikan oleh mereka-mereka. Iin juga sering diajak pameran oleh orang Tionghoa dari itu pula orang banyak yang tahu dari kartu namanya. Batik Semarang sekarang banyak mendapatkan bantuan dari Pemerintah, diantaranya bantuan pameran dan bantuan promosi.</p>
<p>Dengan adanya ketetapan dari Pemerintah bahwa pada tahun 2010 setiap pegawai negri maupun swasta diwajibkan untuk memakai batik dari daerah asal. Iin sebagai pengrajin batik menuturkan ada kebanggaan tersendiri jika ketetapan tersebut benar-benar terlaksana.</p>
<p><strong>Perbedaan Batik Pesisir dengan Batik Pedalaman</strong></p>
<p>Berdasarkan pengaruhnya, batik pesisir dipengaruhi oleh unsur budaya Cina, Eropa dan India, seperti motif burung punik. Sedangkan batik pedalaman banyak dipengaruhi oleh unsur-unsur budaya Keraton. Dilihat dari segi warnanya, batik pesisir khususnya Semarang menurut Dr. Dewi Yuli Wati, karena ada pengaruh-pengaruh Cina, Eropa dan India jadi menggunakan warna-warna lebh mencolok seperti orange, merah, biru. Sedangkan batik pedalaman lebih mempertahankan warna sogan seperti coklat agak kekuningan, krem, kuning kecoklatan dan mempertahankan warna alam sehingga menggunakan bahan-bahan alami lebih natural.(Nurul Hikmah, Ponco Wiyono, Sandy Tria Putra, Kinanti Larasati)<a href="http://lpmhayamwuruk.com/wp-content/uploads/2010/06/DSCI2022.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-15" title="DSCI2022" src="http://lpmhayamwuruk.com/wp-content/uploads/2010/06/DSCI2022.jpg" alt="" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lpmhayamwuruk.com/?feed=rss2&amp;p=11</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hectic Batik!</title>
		<link>http://lpmhayamwuruk.com/?p=8</link>
		<comments>http://lpmhayamwuruk.com/?p=8#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Jun 2010 09:44:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lpmhayamwuruk.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[

 
Batik “naik kelas”! Masyarakat sekarang tidak enggan lagi memakainya. Tidak hanya di kalangan orang tua saja, mahasiswa juga menyemarakkan kampus dengan memakai batik. Acara-acara seperti seminar maupun pentas seni di kampus sekarang mewajibkan panitianya untuk memakai batik. Bahkan beberapa HMJ di kampus kita pun mulai mewajibkan mahasiswanya untuk memakai batik di hari tertentu atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em><br />
</em></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Batik “naik kelas”! Masyarakat sekarang tidak enggan lagi memakainya. Tidak hanya di kalangan orang tua saja, mahasiswa juga menyemarakkan kampus dengan memakai batik. Acara-acara seperti seminar maupun pentas seni di kampus sekarang mewajibkan panitianya untuk memakai batik. Bahkan beberapa HMJ di kampus kita pun mulai mewajibkan mahasiswanya untuk memakai batik di hari tertentu atau biasa disebut dengan ‘Batik Day’. Contohnya EDSA, HMJ sastra Inggris ini mengharuskan mahasiswa Sastra Inggris untuk memakai batik pada hari rabu. “Paling tidak mereka memakai atribut yang berbau batik,” tutur Desita, mahasiswi Sastra Inggris dan salah satu pengurus EDSA. Langkah EDSA ini belakangan diikuti oleh HMJ lain seperti S1 Ilmu Perpustakaan yang mengadakan ‘Batik Day’ setiap hari Jum’at dan jurusan Sastra Indonesia setiap hari Kamis.</p>
<p>EDSA sebagai pencetus “Batik Day” di kampus Fakultas Ilmu Budaya berusaha untuk lebih mendekatkan batik kepada mahasiswa sebagai generasi muda. Dengan kedekatan itu diharapkan akan tumbuh kesadaran tinggi terhadap hasil budaya bangsa sendiri. “Sejak banyak budaya kita diklaim negara lain, kami berusaha mengeksistensikan batik sebagai warisan budaya dengan cara mengenakan batik di kampus.” Ungkap Desita lagi.</p>
<p>Memang klaim sepihak Malaysia atas batik beberapa waktu yang lalu sontak menyulut nasionalisme kebudayaan di semua kalangan termasuk mahasiswa. Hal ini membuat masyarakat kita terpancing untuk lebih peduli dengan budaya warisan para pendahulu. Para aktivis dan pemerhati batik mendesak pemerintah untuk segera turun tangan, setidaknya meminta pengakuan dunia bahwa batik adalah budaya Indonesia. Harapan itu kemudian menjadi kenyataan setelah UNESCO meresmikan batik sebagi ‘World Heritage’ dari Indonesia, 2 Oktober lalu di Abu Dhabi.</p>
<p>Batik sudah “naik kelas”, Malaysia sudah diam dan UNESCO pun sudah mengakuinya sebagai budaya Indonesia. Namun perjuangan belum selesai karena era globalisasi sekarang ini akan menguji seberapa kuat kita menghadapi laju zaman dan gerusannya. Tantangan bagi generasi penerus adalah mempertahankan budaya kebanggaan kita ini karena batik butuh perhatian khusus agar lebih memasyarakat. Pertanyaannya sekarang, Sampai kapan kita akan tetap menjunjung tinggi warisan leluhur, apakah <em>hectic</em> ini sekedar ‘shock culture’ sesaat saja? Bisakah kita menjadi tuan rumah bagi produk kita sendiri? Tugas kita generasi muda!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lpmhayamwuruk.com/?feed=rss2&amp;p=8</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PEMIRA FIB UNDIP 2009/2010, ajang mencari pemimpin baru</title>
		<link>http://lpmhayamwuruk.com/?p=6</link>
		<comments>http://lpmhayamwuruk.com/?p=6#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 May 2010 06:54:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lpmhayamwuruk.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[Kamis siang  tanggal 17 Desember 2009, suasana  Joglo Fakultas Ilmu Budaya (FIB) terlihat hiruk-pikuk. Dua buah bilik suara dan dua buah kotak suara telah tertata rapi di sisi barat dan utara Joglo. Beberapa mahasiswa berjas almamater juga tampak sibuk menata kursi. Hari itu adalah hari pencontrengan dalam rangkaian kegiatan Pemira FIB Undip 2009. “Rangkaian kegiatan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kamis siang  tanggal 17 Desember 2009, suasana  Joglo Fakultas Ilmu Budaya (FIB) terlihat hiruk-pikuk. Dua buah bilik suara dan dua buah kotak suara telah tertata rapi di sisi barat dan utara Joglo. Beberapa mahasiswa berjas almamater juga tampak sibuk menata kursi. Hari itu adalah hari pencontrengan dalam rangkaian kegiatan Pemira FIB Undip 2009. “Rangkaian kegiatan Pemira 2009 sendiri telah dimulai sejak tanggal 30 November 2009, mulai tanggal tersebut sosialisasi Pemira telah mulai dilakukan. Selanjutnya ada masa pendaftaran calon Presiden BEM dan Senat mahasiswa (SEMA), verifikasi, pengumuman calon, kampanye tertulis, juga kampanye dialogis di kampus pleburan dan kampus tembalang”, terang Aditya Indra, ketua Komite Pemilu Raya (KPR)  FIB 2009.</p>
<p>Pemira merupakan singkatan dari Pemilu Raya, kegiatan ini merupakan agenda tahunan dari FIB, adapun penyelenggaranya adalah KPR  yang dibentuk pada saat Kongres Mahasiswa II pada 20 – 22 November 2009. Anggota KPR FIB 2009/2010 kali ini berasal dari 19 UKM/HMJ/HMPS minus perwakilan dari BEM dan SEMA. KPR kali ini dikletuai oleh Aditya Inra A, mahasiswa Sastra Indonesia angkatan 2008, perwakilan Dari keluarga Mahasiswa Muslim Sastra ( KMMS) yang merupakan salah satu UKM kerohanian di FIB Undip.</p>
<p>Pemira tahun 2009 ini diikuti oleh 2 orang calon presiden BEM dan 6 orang calon anggota SEMA. Kedua orang calon presiden BEM tersebut adalah Aan Setyawan dari S1 Sastra Inggris dan Asri Tri Undari yang berasal dari S1 Ilmu Perpustakaan. Sebelum dipilih secara langsung oleh mahasiswa FIB, Aan dan Asri harus mengikuti kampanye dialogis terlebih dahulu, hal itu dimaksudkan agar mahasiswa calon pemilih dapat melihat lebih dekat calon presiden BEM FIB Undip serta dapat mengerti dengan jelas visi misi dari calon Presiden BEM tersebut. Karena alasan itu pulalah, kampanye dialogis diadakan 2 kali, yakni di kampus Pleburan pada tanggal 14 September 2009, dan di kampus Tembalang pada tanggal 15 Desember 2009.”Tapi saying, antusiasme mahasiswa menyaksikan kampanye dialogis masih rendah” kata Aditya. “buktinya saat pelaksanaan kampanye dialogis, mahasiswa FIB hanya lalu lalang, tanpa ada niatan untuk berhenti sejenak menyaksikan kampanye dialogis”, imbuh Aditya. Setelah Kampanye dialogis usai, akhirnya hari pencontrengan tiba, dan . berdasarkan 449 suara (405 dari FIB Peleburan, 44 dari FIB Tembalang) mahasiswa FIB yang ikut dalam Pemira kali ini, Aan dinobatkan sebagai presiden BEM dengan mengantongi 326 suara. Sedangkan Asri hanya mendapatkan 89 suara. “Mungkin, kemenangan telak Aan ini karena pelaksanaan Pemilihan ketua HMJ Inggris bebarengan dengan pencontrengan Pemira. Jadi, kebanyakan yang mencontreng di Pleburan adalah mahasiswa Sastra Inggris yang notabenenya adalah teman – teman yang satu jurusan dengan Aan” kata Laras, salah seorang mahasiswa yang ikut mencontreng.</p>
<p>Yah, pada akhirnya, hasil Pemira telah resmi ditetapkan. Dan kita hanya bisa berharap semoga Aan dapat menjadi pemimpin baru FIB yang bijak dan membawa FIB kearah yang lebih baik.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lpmhayamwuruk.com/?feed=rss2&amp;p=6</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Scripta Manent Verba Volant (Yang tertulis akan tetap tinggal, yang diucapkan lenyap bersama angin)</title>
		<link>http://lpmhayamwuruk.com/?p=3</link>
		<comments>http://lpmhayamwuruk.com/?p=3#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Apr 2010 14:05:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lpmhayamwuruk.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Salam Pers!!!
Setelah lama melalui berbagai halangan  akhirnya web kami aktif kembali. Menjelang pergantian pengurus redaksi berusaha agar web ini agar selalu terisi baik news maupun artikel-artikel. Insyaallah.
Redaksi menerima tulisan, kritik ataupun saran dalam bentuk apapun. Silahkan kirim ke alamat e-mail kami.
Hidup Pers!!!!!!
e-mail Redaksi : redaksihayamwuruk@gmail.com
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salam Pers!!!</p>
<p>Setelah lama melalui berbagai halangan  akhirnya web kami aktif kembali. Menjelang pergantian pengurus redaksi berusaha agar web ini agar selalu terisi baik news maupun artikel-artikel. Insyaallah.</p>
<p>Redaksi menerima tulisan, kritik ataupun saran dalam bentuk apapun. Silahkan kirim ke alamat e-mail kami.</p>
<p>Hidup Pers!!!!!!</p>
<p>e-mail Redaksi : redaksihayamwuruk@gmail.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lpmhayamwuruk.com/?feed=rss2&amp;p=3</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://lpmhayamwuruk.com/?p=1</link>
		<comments>http://lpmhayamwuruk.com/?p=1#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Apr 2010 13:06:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lpmhayamwuruk.com/?p=1</guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lpmhayamwuruk.com/?feed=rss2&amp;p=1</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
