Mayor Jenderal TNI Saurip Kadi memang bukan seorang jenderal populer. Kendati begitu, di kalangan militer dan elite politik negeri ini, pria kelahiran 18 Januari 1951, di Brebes, Jawa Tengah ini, namanya cukup dikenal. Ia dikenal sebagai orang yang kerap bersuara vokal terhadap institusinya sendiri: Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Mantan asisten teritorial KSAD ini mulai menjadi buah bibir khalayak, selepas mencuatnya kasus Dokumen Bulak. Dokumen ini dikabarkan berisi reposisi para petinggi di tubuh militer itu, kabarnya dibahas di kediaman Saurip. Antara lain, oleh Saurip, mantan Pangkostrad Letjen Agus Wirahadikusumah, Bondan Gunawan, mantan Sekretaris Pengendalian Pemerintahan dan sejumlah figur lainnya. Setelah heboh dokumen itu, Saurip kemudian dicopot dari pos asisten teritorial KSAD. Ia dimutasikan ke Yayasan Kartika Eka Paksi, salah satu yayasan di bawah TNI AD.
LPM Hayamwuruk bekerjasama dengan Komunitas Hysteria, akan menghadirkan langsung jenderal pendiunan asal Brebes itu dan juga Liem Siok Lan untuk membedah buku "Mengutamakan Rakyat" dan "Menembus Batas". Buku yang pertama merupakan hasil wawancara Liem Siok Lan dengan Mayor Jendral TNI Saurip Kadi, sementara buku 'Menembus Batas' adalah hasil wawancara Liem Siok Lan dengan beberapa tokoh berpengaruh.
Dalam buku tersebut, Saurip banyak mengungkapkan keburukan pemerintah masa lalu dan kebobrokan pemerintah masa kini. Apakah itu artinya ia bersiap untuk maju dalam bursa Pilpres 2009? Jika benar, maka Saurip adalah satu diantara sekian banyak jenderal yang mengimpikan perbaikan negeri ini melalui kekuasaan. Ada Wiranto, ada Prabowo dan jenderal lain yang kini sudah mulai ancang-ancang ikut Pilpres.
Acara akan digelar pada Jumat (7/11) mulai pukul 09.00 Wib di Joglo Fakultas Sastra Undip. Diskusi dan bedah buku ini terbuka untuk umum. Informasi lebih lanjut bisa menghubungi Gema Yudha (081575339498).
Selasa, Oktober 07, 2008
Bedah Buku "Mengutamakan Rakyat" dan "Menembus Batas"
Rabu, April 23, 2008
Diskusi Buku: Jadilah Intelektual Progresif
LPM Hayamwuruk akan kembali mengadakan diskusi buku dengan mengundang penulisnya. Buku "Jadilah Intelektual Progresif" kami pilihkan sebagai bahan diskusi yang akan digelar pada Selasa, 29 April 2008 di Joglo Fakultas Sastra Universitas Diponegoro dari pukul 09.00 WIB - selesai.
Buku ini mengetengahkan isu yang tengah aktual di kalangan mahasiswa dan dunia akademis pada umumnya yang minim melakukan pergerakan. Padahal, bukankah sudah banyak buku yang telah dibaca oleh para mahasiswa, sudah banyak diskusi dan wacana melintas dalam keseharian mereka, tapi mengapa belum ada tindaklanjutnya?
Nah, buku ini dibedah sekaligus untuk mencari jawaban atas pertanyaan di atas. Semoga diskusi kali ini tak hanya berakhir pada adu wacana di forum, tapi lebih jauh dari itu, diharapkan dapat menggerakkan kita bersama untuk bergerak. Bertindak sesuatu yang dibutuhkan oleh lingkungan kita, masyarakat dan negara.
Apakah kita mau dikatakan sebagai kaum intelektual yang tak punya nyali?
Catat tanggal mainnya:
Hari/Tanggal: Selasa, 29 April 2008
Waktu: 09.00 WIB - selesai
Tempat: Joglo Fakultas Sastra Undip
Pembicara :
1. Eko Prasetyo (Penulis buku "Jadilah Intelektual Progresif, Orang Miskin Dilarang Sekolah, dll)
2. Husain Matla (Penulis Buku Demokrasi Tersandera, dll)
Info lebih lanjut, silakan hubungi kawan Gema Yudha (081575339498).
Senin, Februari 25, 2008
Mangrove Cultivation (MC) 2008
KeSEMaT, sebuah organisasi pemerhati lingkungan hidup akan mengadakan "Mangrove Cultivation (MC) 2008: Penyuluhan dan Pembibitan Mangrove. Kegiatan ini akan dilaksanakan pada 14 – 16 Maret 2008.
Seperti yang disampaikan dalam siaran persnya kepada redaksi LPM Hayamwuruk, kegiatan tersebut selain untuk memberikan keterampilan kepada masyarakat dan mahasiswa tentang metode pembibitan mangrove yang benar juga bertujuan untuk menyelamatkan pesisir pantai Teluk Awur Jepara dari abrasi.
Selain itu, MC 2008 juga berguna untuk mendidik masyarakat dan mahasiswa akan arti penting ekosistem mangrove bagi kehidupan mereka.
MC 2008 akan diwarnai dengan berbagai kegiatan seperti seminar bertema Global Warming, susur pantai, pengenalan spesies mangrove, fun games, api unggun, ramah-tamah, pembibitan mangrove di Arboretum KeSEMaT, nonton bareng film mangrove, sunset photo session, bersih pantai dan masih banyak lagi.
Peserta terbatas, dan akan mendapatkan fasilitas berupa transport Semarang-Jepara pulang pergi, penginapan, makan-minum, snack, T-Shirt, stiker, seminar kit, sertifikat dan door prize.
Bagi masyarakat yang berminat mengikuti kegitan ini, pendaftaran dibuka mulai
tanggal 8 Februari sampai dengan 8 Maret 2008. Harga tiket Rp. 70.000,-. Formulir
pendaftaran bisa didapatkan di Kantor KeSEMaT Semarang dan Kampus Ilmu Kelautan UNDIP Semarang.
Bagi yang berada di luar Semarang, Anda bisa mendaftarkan diri melalui email
KeSEMaT di kesemat@yahoo.com dengan subject: registrasi MC 2008, yang
disertai dengan formulir pendaftaran yang bisa didownload di http://kesemat-online.tripod.com/formmc08.pdf
Info selengkapnya silakan hubungi:
menghubungi langsung Saudara Sunanto
Kusuma P. +628564 1377 533 atau telepon
ke KeSEMaTPHONE +6224 7052 7552. Mari
bersama selamatkan mangrove kita. Sekarang!
Jumat, Februari 22, 2008
Selamat untuk Kawan Gema Yudha
Puji syukur, salah seorang kawan kami, pengelola LPM Hayamwuruk menjadi salah satu pemenang lomba puisi cinta yang diadakan oleh tabloid Nyata. Dari informasi panitia, lomba ini diikuti oleh 6000-an peserta, lalu dipilih 200 puisi yang dianggap terbaik. Sampai tahap ini panitia tak diberitahu siapa pemilik puisi itu. Yang dipilih adalah puisi dan tanpa mempertimbangkan siapa penulisnya.
Ya, kami turut senang sekaligus bangga karena salah seorang kawan kami, teman senasib dan seperjuangan berhasil keluar sebagai salah satu pemenangnya. Puisi kawan Gema yang diberi judul "Dzikir Air" dinobatkan sebagai salah satu puisi terpuji. Puisi ini sebelumnya pernah dimuat di Newsletter Hawe Pos, salah satu lini produk LPM Hayamwuruk. Silakan baca di sini.
Untuk lebih lengkapnya, berikut ini adalah nama-nama pemenangnya:
1. Sajak buat Istri yang Buta dari Suaminya yang Tuli, M. Aan Mansyur, Makassar.
2. Lunto Kloof, Cinta Pertama yang Gagal Kuselamatkan, Y. Thendra BP, Yogyakarta.
3. Aku melihatmu Menanti di Depan Rumah, Ni Kadek Ayu Winastri, Kuta-Bali.
4. Kidung Perpisahan, Herry Trunajaya BS, Balikpapan Selatan.
5. Merah jambu Selendang Ibu, Thowaf Zuharon, Yogyakarta.
6. Pernikahan, M Anshor Sja’roni, Waru, Sidoarjo.
PERAIH KARYA TERPUJI
(masing-masing Rp 700 ribu)
1. Dalam Sekental Kopi, Hamiddin, Sumenep-Madura.
2. Dan Ini Cinta Tuhan, Lindung Ratwiawan, Malang.
3. Kau Bagiku, Ala Roa, Yogyakarta.
4. Requiem: Senyum Berkabung, Kukuh Yudha Karnanta, Surabaya.
5. Aku Ingin Menjadi Tua, Rozakky, Bangkalan-Madura.
6. Ibu, Aulia Muhammad, Semarang.
7. Ziarah Cinta, Nurul Iva Yulia Imawan, Randudongkal-Pemalang.
8. Sajak Berlayar, Surasono Rashar, Lumajang.
9. Mawarilah Aku, S. Yoga, Ngawi.
10. Sepucuk Rinduku Padamu, Nak, Suharyono, Pati.
11. Pelukan, M. Aan Mansyur, Makassar.
12. Malam Pinangan, M. Badri, Bogor.
13. Tiga Soneta Cinta untuk Oneta, Ifull Azka Zulkifliy, Cirebon.
14. Hutan Kepala, Joko Gesang Santoso, Sleman-Yogyakarta.
15. Aku Perempuan Pelamarmu, Putri hati Ningsih, Laweyan-Sala.
16. Bacakan Aku Satu Puisi Cinta, Pay Jarot Sujarwo, Pontianak.
17. Cinta di Tanah Perang, Alimuddin, Darussalam-Aceh Besar.
18. Bayi, Hariqo Wibawa Satria, Bukittinggi-Sumatera Barat.
19. Uterus, Kedung Darma Romansha, Indramayu-Jabar.
20. Komposisi Kau dan Aku, Indrayani Puspitasari, Surabaya.
21. Petak Umpet, Didi Arisandi, Lampung.
22. Dzikir Air, Gema Yudha, Bandung.
Kenapa yang diberi tanda warna merah ada dua. Ternyata, dari sekian nama pemenang itu ada juga salah seorang alumni LPM Hayamwuruk. Siapa dia?
Kamis, Januari 10, 2008
Diperlukan Kajian Khusus Sastra Terjemahan
Liputan diskusi bedah buku "Edgar Allan Poe dan Sepilihan Karyanya" #2
Usulan menarik disampaikan oleh Siswo Harsono dalam diskusi bedah buku "Edgar Allan Poe dan Sepilihan Karyanya" (8/1). Menurutnya, dewasa ini banyak sekali buku-buku sastra hasil terjemahan yang bisa dengan mudah ditemukan di rak-rak toko buku, namun hingga kini belum ada satu kajian khusus terhadap karya-karya sastra hasil terjemahan itu.
Kajian secara khusus ini perlu, mengingat banyaknya karya-karya terjemahan, namun hingga kini belum ada perhatian secara khusus dari pihak akademisi atau kritikus.
"Masalahnya, kita akan meletakkan buku ini di rak mana. Di jurusan Sastra Inggris Undip tak ada satu kajian tentang sastra terjemahan. Seharusnya ini diperlukan. Bisa dibuka untuk Jurusan Sastra Inggris maupun Sastra Indonesia".
Ketika sebuah karya diterjemahkan, sebenarnya pada saat itu pula hasil terjemahan sudah menjadi produk baru. Dalam hal ini menerjemahan sama halnya mencipta ulang. Ia sudah terkontaminasi oleh subyektivitas, selera dan kepentingan-kepentingan penerjemah.
Menerjemahkan karya sastra seperti halnya menerjemahkan bidang-bidang lain, tak hanya memindahkan bahasa sumber ke bahasa target. Namun lebih jauh dari itu, penerjemah harus mampu memindahkan atau yang paling mungkin mencarikan padanannya dalam kebudayaan pengguna bahasa target sehingga pembaca karya terjemahan bisa merasakan kehadiran bahasa dan situasi cerita secara lebih dekat.
Dalam kasus penerjemahan karya sastra, akan banyak dijumpai istilah-istilah yang sulit bahkan tak bisa dicarikan padanannya dalam bahasa Indonesia. Misal, akan kita sebut apa "Burung Hering" yang terdapat dalam salah satu cerpen EdgarAllan Poe, dalam kamus perburungan yang dikenal oleh orang Indonesia.
"Apakah kita bisa menyebutnya dengan burung gagak?" tanya Siswo
Selain itu, Siswo juga mengritik beberapa bagian yang hilang yang membuat kesatuan dalam buku itu menjadi rusak. Mula-mula ia memberikan catatan pada cover, apakah lukisan karikatur di sampul itu berdifat ikonis atau indeksikal. Bagian yang hilang yakni adalah alusi nietchzean yang seharusnya dipertahankan. Ini akan mampu menjelaskan bagaimana Poe bisa keluar dari penderitaan.
Mengenai penerjemahan dalam buku ini, Aulia memberikan masukan agar penerjemah berani menerjemahkan teks dengan tidak terikat dari teks asal. Menerjemah tidak cukup memindahkan kata atau mencari padanan. Tapi lebih jauh dari itu, bagaimana bisa memindahkan impresi-impresi saat membaca karya tersebut ke dalam hasil terjemahan.
Menanggapi kritikan-kritikan dari para pembicara, Tia Setiadi justru merasa berterima kasih kepada kedua pembicara yang menurutnya sangat kritis. "Dari dua kali diskusi buku yang diadakan di Yogya dan Solo, baru kali ini saya mendapatkan kritikan yang pedas. Ini forum yang paling cerdas," katanya.
Namun demikian, baginya dalam penerjemahan tetap akan ada yang hilang dan semuanya tak bisa seperti asalnya. Dan ia mengatakan, penulisan biografi dari sumber terjemahan belum banyak dilakukan di Indonesia bahkan dia berani mengklaimnya sebagai penulis yang pertema melakukannya.
Ia mengakui menyusun buku ini sebagai upaya untuk membuat dokumentasi proses kreatif para penulis yang menurutnya tradisi ini di Indonesia masih sangat kurang.
Sebelum buku "Edgar Allan Poe dan Sepilihan Karyanya" ini, dia sudah menerjemahkan buku pelukis Van Gogh yang hidupnya juga amat dramatis. Setelah buku yang kedua ini dia merencanakan akan membuat seri yang sama, yakni biografi penyair Amerika Walt Whitman.
Apa yang dilakukan oleh Tia Setiadi ini adalah usaha yang patut diapresiasi. Buku ini memberikan kontribusi yang amat berharga untuk khasanah sastra di negeri ini. Apa yang dilakukannya sangat berbalik arah dengan mereka yang menggarap buku yang dipastikan akan banyak pembacanya karena mengangkat topik-topik populer. Sementara buku ini kecil kemungkinan untuk mendapatkan pembaca dari kalangan luas. Tak salah memang jika Tia menulisnya karena kecintaan.
Baca tulisan terkait:
- Posisi Karya Sastra Terjemahan Kita
Rabu, Januari 09, 2008
Biografi yang ditulis karena kekaguman
Laporan Diskusi Bedah Buku "Edgar Allan Poe dan Sepilihan Karyanya.
Tak dipungkiri, buku biografi "Edgar Allan Poe dan Sepilihan Karyanya" yang disusun oleh Tia Setiadi menyuguhkan data-data yang cukup detail. Buku ini merekam penyair, cerpenis cum essais asal Amerika itu yang menjalani hidup dengan narasi yang dramatis.
Bahkan diakui oleh Siswo Harsono, dosen Jurusan Sastra Inggris Undip yang menjadi pembicara dalam acara bedah (8/1), apa yang disampaikan dalam buku itu jauh lebih dramatis dari kehidupan Poe yang sebenarnya.
Aulia Muhammad, pembicara satunya pun mengatakan hal yang sama, narasi dalam buku ini sangat menyedihkan tapi tak ada data yang kuat yang menunjukkan kesedihan tokoh yang diceritakan itu.
Aulia menduga, buku ini ditulis dari rasa kecintaan si penyusun kepada Poe. Ini bisa dilihat dari karya-karya yang dpilih maupun urutan penyajiannya. Menurut Aulia sebenarnya tak ada yang istimewa dengan penderitaan, kemiskinan bagi seseorang yang ingin total dalam kesenian.
"Poe dalam buku ini ditampilkan cengeng sekali, tak punya duit masih saja merengek minta uang dari orang tua," katanya.
Celakanya, hal itu dilihat oleh penulis sebagai hal yang wajar dan memberikan pemakluman. Harusnya itu tampak sikap yang aneh. Lain halnya, jika biografi ini tidak ditulis dalam satu arah (pemujaan), bisa ditampilkan sisi-sisi lain yang kontra dari Poet sehingga bisa ditampilkan biografi yang lebih berimbang.
Aulia bisa memahami jika penyajian itu adalah hak dari si penyusun. Namun Ia memberi masukan, sebaiknya perlu data-data yang kuat untuk mendukung argumentasi yang hendak dibawa oleh penyusun buku. Dan data-data yang ditunjukkan itu data-data yang berkaitan tidak terjebak pada detail-detail yang bertele-tele.
Tia Setiadi yang masih berstatus mahasiswa semester akhir di Jurusan Sosiologi UGM itu mengakui jika dia sengaja memilih dengan pandangan subyektifnya mengenai karya-karya yang ditampilkan dalam bukunya. Menuruntnya buku itu sengaja disajikan dengan bahasa dan bahasan yang lebih populer karena dia ingin menjangkau pembaca yang lebih luas, tidak hanya berasal dari kalangan yang mengerti sastra. [Zumala]
Senin, Januari 07, 2008
LPM Hayamwuruk Gelar Diskusi "Edgar Allan Poe dan Sepilihan Karyanya"
LPM Hayamwuruk, Lembaga Pers Mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Diponegoro (FS Undip) akan menggelar diskusi bedah buku "Biografi Edgar Allan Poe dan Sepilihan Karyanya", Selasa (8/1) pukul 09.00 WIB di Joglo FS Undip.
Akan hadir sebagai pembicara, Siswo Harsono dosen Sastra Inggris FS Undip, Aulia Muhammad peminat dan pemerhati sastra yang juga Pemimpin Redaksi Suara Merdeka Cyber News dan Tia Setiadi penerjemah buku.
Siswo Harsono akan mengupas buku dari sudut pandang seorang kritikus sastra. Dosen Sastra Inggris Undip itu akan mengajak audiens untuk membicarakan biografi sebagai sebuah kritik sastra. Aulia Muhamad akan membahas dari sudut peminat karya sastra yang membaca karya Edgar Allan Poe. Tia Setiadi selaku penerjemah buku akan bercerita lebih banyak mengenai proses penyusunan buku dari naskah asalnya.
Buku "Edgar Allan Poe dan Sepilihan Karyanya" ini diterbitkan oleh Penerbit Interlude Yogyakarta. Buku ini mengupas biografi dan beberapa karya penyair, cerpenis dan juga kritikus asal Amerika tersebut.
Sekilas tentang Edgar Allan Poe
Edgar Allan Poe lahir dari pasangan David Poe dan Elizabeth Arnold Hopkins. Kedua orang tuanya pemain teater. Edgar menjadi yatim piatu dalam usianya yang relatif masih sangat muda. Dia diangkat dan dirawat oleh keluarga Tuan dan Nyonya Allan Sewaktu berusia dua tahun. Edgar seorang bocah yang memiliki pemikiran yang cerdas. Dia mampu menampung detail-detail, pengalaman serta impresi yang dijumpainya dalam pikirannya, seakan dia tahu kelak akan memerlukannya.
Edgar tumbuh besar bersama ayah angkat yang tidak menyayanginya. Beruntung ibunya tidak demikian. Sayang sekali Tuan Allan tidak melihat sisi kejeniusan Edgar kecil. Kejeniusan Edgar terlihat dari setiap karya puisinya. Nyonya Allan selalu ingin dibacakan puisi Edgar dan yang terbaru tentunya.
Sewaktu kecil dia sangat disenangi teman-temanya. Dia selalu menjadi panutan dan kebanggaan teman-temanya. Dia senang berolahraga.
Kepedihan dan terjalnya kehidupan dia lalui tanpa menyerah. Ayahnya mengirimya ke Universitas Virginia. Tak seperti kawan -kawanya yang diberikan banyak uang orang tuanya tanpa tahu digunakan untuk apa, Edgar hanya diberikan uang tanpa cukup untuk bisa membiayai kuliahnya. Inilah awal dia menyentuh minuman keras dan perjudian. Dia mulai mengikuti temanya berjudi berharap menang, tapi selalu kalah. Sesekali dia juga minum minuman keras. Dia banyak berhutang kepada orang lain. Meskipun ayahnya sudah diberi tahu olehnya kalau dia banyak hutang, ayahnya tetap tidak mau memberinya uang.
Kesengsaraan Edgar diperparah setelah kematian ibundanya, orang yang selalu menyayanginya. Dia terusir dari rumah tanpa mendapatkan apa-apa dari ayahnya. Tapi dia tetap tidak menyerah. Dia ingin menerbitkan kumpulan puisi dan ceritanya dalam bentuk buku. Tetapi selalu ditolak. Meskipun puisinya mendapatkan pujian yang luar biasa dari bnayak orang tapi tetap tidak ada yang mau menerbitkannya.
Karya-karya Edgar menceritakan tentang terror dan kematian. Dia membuat puisi untuk seorang perempuan yang dicintainya yang telah meninggal dunia. Puisi-puisinya mencerminkan indahnya pertemuan dengan sosok perempuan yang “sempurna” yang akhirnya direnggut perpisahan.
Edgar, seorang pecinta sains dan pengamat lapangan yang teliti, yang mampu menuliskan pikiran-pikiranya dengan detail . Karya-karyanya dianggap mampu menerobos waktu. Di saat kondisi fisiknya menurun, kegigihanya untuk mencipta sebuahkarya yang menurutnya “karya tersulit yang pernah dibuatnya”, melahirkan tulisan bertajuk Eureka (1848). Eureka , tulisan controversial, merupakan karya yang berkaitan dengan teori –teori Poe tentang berbagai penemuan sains yang (diimajinasikan) bakal terjadi di masa depan.
Berbagai tragedi kebrangkutan serta kemiskinan menderanya tak henti-henti. Akhirnya 7 Oktober 1949, Edgar terbating tentram dan sentosa seakan dia telah melewati lautan badai. Dia meninggal dunia dengan damai. [Eka Harisma]
*Untuk informasi kegiatan silakan hubungi:
Gema Yudha : 081575339498
Zumala Nahari : 08882529244
Kamis, Oktober 25, 2007
EDSA-ku Sayang, HMJ-ku Malang
Oleh: Lailatul Fitri
Reporter: Nor Ismawati, Nely Restiana,
Dian Hijrianti, Kurniawan P, Yuanita M
Roy terkejut mendapati base camp EDSA yang berantakan dipenuhi peralatan berserakan seperti gudang. Ia tak habis pikir base camp yang dulu didapatkan dengan perjuangan yang tidak mudah, kini beralih fungsi. Di raut mukanya tampak kekecewaan yang bercampur aduk dengan kemarahan. Tampak tangannya meninju, matanya melotot tajam.
Roy, mahasiswa Ekstensi 2001 adalah mantan pengurus inti EDSA periode 2002/2003. Ia menjabat sebagai wakil ketua memperkuat kabinet yang dipimpin oleh Linanda. Saat awal kepengurusannya ia mengajukan ke jurusan agar EDSA memiliki sebuah sekretariat atau base camp.
Sebelumnya EDSA memang tidak memiliki base camp. Rapat-rapat diadakan di ruang kelas atau di emper-emper kampus. Peralatan-peralatan organisasi disimpan oleh masing-masing pengurus. Pada masa kepengurusannya pula EDSA melibatkan mahasiswa dari jurusan ekstensi Sastra Inggris.
“EDSA saat itu ramai. Banyak orang, juga banyak kegiatan. Siang dan malam base camp ini hampir ada yang jaga. Itu semua tidak mudah. Perlu perjuangan yang panjang untuk mendapatkan sebuah base camp, meskipun cuma sepetak sempit itu dan menyatukan mahasiswa reguler dan ekstensi,” ungkapnya saat mampir ke kantor Redaksi LPM Hayamwuruk belum lama ini.
Selain Roy, Ari Nugroho, mantan wakil ketua EDSA periode 2004/2005 juga menyampaikan kekecewaan serupa. Sebagai mantan pengurus yang pernah menghidupkan EDSA, Ari mengaku prihatin dengan kondisi EDSA sekarang.
“Pertemuan ga ada, kegiatan ga ada, bahkan sekedar ngumpul - ngumpul pun ga ada. Lebih parah lagi base camp yang dulu selalu ramai malah jadi gudang yang dekil begitu,” ungkap mahasiswa Sastra Inggris angkatan 2003 itu.
EDSA (English Departement Student Asociation) adalah HMJ Sastra Inggris yang anggotanya terdiri dari mahasiswa Sastra Inggris reguler dan ekstensi. Sejak kepengurusan periode 2006-2007 di bawah kepemimpinan Idris, mahasiswa Sastra Inggris 2004, kegiatan EDSA mulai jarang terlihat, bahkan bisa dibilang tidak terlihat sama sekali. Bahkan Idris, yang menjabat sebagai ketua EDSA sulit ditemui.
Dwi Anna yang menjadi pengurus EDSA periode ini pun mengaku lupa saat ditanya bekerja di bagian apa. Setelah berpikir agak lama akhirnya dia ingat bahwa dia ditugaskan di bagian Bakmi (Bakat dan Minat). Menurut mahasiswi ekstensi angkatan 2004 ini, EDSA memang tidak aktif lagi. Hal ini dibuktikan dengan tidak adanya pertemuan rutin organisasi.
”Pengurus yang masih aktif dalam keorganisasian cuman satu orang, itu pun bukan ketuanya. Yang lain gak tau ke mana” ungkapnya.
Mantan wakil ketua EDSA periode 2005-2006 , Ajen Kurniawan, juga sependapat dengan Dwi Anna. Menurutnya, ketidakaktifan EDSA disebabkan oleh kurangnya koordinasi antar-pengurus dan kurangnya komunikasi antarkepala departemen.
Soal ketidakaktifan kepengurusan EDSA ini, Ari Nugroho tidak sepenuhnya menyalahkan ketua. Menurutnya semua pengurus juga memegang tanggung jawab akan hidup-matinya EDSA. Namun sudah menjadi tugas ketua untuk memimpin rekan-rekannya menjalankan komitmen yang mereka buat saat menjadi pengurus EDSA.
Minimnya pertemuan dan jumlah pengurus yang aktif cuma sedikit membuat base camp EDSA beralih fungsi menjadi gudang Teater EMKA.
“Sebenernya sih dulunya cuma buat nitipin barang dari EMKA, tapi lama-kelamaan jadi keterusan. Tapi kalau kita (EDSA) sudah aktif kembali, kita akan pakai base camp itu lagi”, terang Ajen. Ia juga menambahkan bahwa sebenarnya base camp EDSA memang sudah rusak dan tidak layak lagi.
Bagi Roy base camp itu seperti rumah bagi sebuah keluarga. Ia adalah tempat untuk melepas lelah, tempat untuk berkumpul, dan lebih jauh tempat untuk menyusun masa depan. Maka jika rumah itu tidak dirawat, maka ia mencerminkan pribadi para penghuninya.
Dari pihak EMKA, seperti yang disampaikan Agustinus Reinaldi atau yang akrab dipanggil Ucup, membenarkan bahwa organisasinya menitipkan sebagian peralatannya di EDSA. Ucup mengaku mendengar beberapa komplain dari sejumlah mahasiswa Sastra Inggris yang mengeluhkan basecamp EDSA yang dijadikan untuk gudang EMKA. Namun hingga kini belum ada komplain yang disampaikan secara kelembagaan.
Ucup juga mengatakan bahwa EMKA pernah menaruh peralatannya di WMS karena beberapa waktu base camp WMS kosong tak dipakai untuk kegiatan. Tapi setelah ada yang bilang base camp itu akan dipakai, peralatan-peralatan itu pun segera dibereskan.
“Jika memang ada yang menemui kami dan minta peralatan EMKA di keluarakan karena basecamp mau dipakai, maka kami akan mengeluarkannya. Tapi ya mana, belum ada pengurus EDSA yang menemui kami. Biar saja ini menjadi tamparan. Cari basecamp itu susah,” terang aktivis EMKA dan juga aktif di PRMK ini.
Ari mengaku sesak jika melihat ruangan yang dimana dulu dirinya belajar berbagai hal sekarang menjadi semrawut. Ia sangat menyayangkan kejadian ini. Seandainya base camp sering dipakai, maka tidak akan ada acara titip-menitip barang. Ia berharap kepengurusan sekarang segera merapikan dan memfungsikan EDSA, termasuk pula base camp seperti semestinya.
“Saya mohon teman-teman EMKA dengan kebesaran hati mau segera memindahkan barang-barangnya tanpa menunggu adanya laporan dari pengurus. Base camp itu bukan hanya milik pengurus, tapi juga milik seluruh mahasiswa Sastra Inggris, baik ekstensi juga reguler. Tak hanya itu, mantan pengurus bahkan yang sudah jadi alumni akan sakit melihat base camp menjadi seperti itu,” ungkap Ari.
Komentar yang sama juga disampaikan oleh Roy. Dia ingin base camp EDSA segera digunakan lagi oleh pengurusnya.
Apakah ini bisa diartikan bahwa secara kelembagaan ataupun kepengurusan EDSA sudah tak ada lagi. Jika tidak, bagaimana mungkin basecamp dipakai oleh organisasi lain diam saja tak ada keberatan?
Ketidakaktifan EDSA pada periode 2006-2007 ini membuat sejumlah mahasiswa mengira bahwa EDSA benar-benar sudah mati. Mereka tidak tahu kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh EDSA. Mereka juga tidak tahu siapa yang menjabat sebagai ketua EDSA sekarang.
“Sekarang EDSA tidak pernah bersosialisasi. Sosialisasinya hanya pada waktu awal penerimaan mahasiswa baru”, kata mahasiswi Sastra Inggris yang enggan disebutkan namanya.
Selain EDSA, HMJ Kearsipan sempat vakum sekitar dua tahun. Terhitung sejak tahun 2004-2005 tak ada kepengurusan. Namun kini HMPSD III Kearsipan yang kini menempati kampus Tembalang, sudah aktif kembali di bawah kepemimpinan Rianti.
Berbeda dengan EDSA, ada HMJ baru yang telah lahir dan bersemangat untuk maju. Yaitu HMJ Ilmu Perpustakaan. HMJ yang baru beberapa bulan lalu berdiri ini tidak mau kalah dengan HMJ lain yang sudah ada.
Patut diacungi jempol bagi mereka yang telah memperjuangkan lahirnya HMJ yang di ketuai oleh Adi Surya S ini. Di saat kondisi mahasiswa mulai apatis dengan kegiatan kemahasiswaan, mereka tetap berjuang agar diakui eksistensinya. Ditambah adanya dukungan dan antusiasme yang tinggi dari para anggotanya.Terbukti dari 31 jumlah keseluruhan mahasiswa regular, 22 diantaranya bersedia menjadi pengurus HMJ.
“Dengan adanya HMJ ini diharapkan dapat menaungi kesatuan dan persatuan. Terutama mereka anak jurusan S1 Perpustakaan,“ harap ketua yang baru dilantik tanggal 31 Mei 2007 itu.
Sejumlah mahasiswa S1 Ilmu Perpustakaan juga menaruh harapan yang besar terhadap HMJ baru mereka. “Semoga dengan adanya HMJ baru ini, jurusan kami lebih dikenal oleh seluruh mahasiswa UNDIP dan dapat melakukan kegiatan yang positif,” kata Dina Nur Cahyani.
Senada dengan Dina, Dwi Cahyo Yanuargo, teman seangkatannya ini berharap HMJ baru tersebut dapat menjadi HMJ yang berarti bagi HMJ lain maupun Universitas.
Di saat yang masih baru berjuang untuk diakui, mengapa yang sudah ada tidak memanfaatkan eksistensinya?****
Keterangan gambar: Karena tak digunakan oleh pengurusnya, Base Camp EDSA beralihfungsi menjadi gudang Teater Emka. Foto oleh Erwin Wicaksono
Mengobati UKM/HMJ yang Sakit
Pembantu Dekan III ingin menghidupkan kembali kegiatan UKM/HMJ yang kurang aktif.
Oleh Fanny Judistia
Reporter: Handini UPS, Ika Wahyu W, Krisna W, Aliya Supriati, Ake Andari H
Setelah melalui proses pemilihan yang cukup panjang, Selasa (19/6) akhirnya terpilihlah empat orang yang menduduki kursi Pembantu Dekan (PD) Fakultas Sastra periode 2007-2011. Mereka adalah Prof Dr Sutejo Kuwat Widodo MHum sebagai PD I, Dra Dewi Murni MA sebagai PD II, Drs Mujid Farihul Amin MPd sebagai PD III dan Drs. Suharno MEd sebagai PD IV.
Setiap PD telah menyiapkan sejumlah program kerja untuk membawa Fakultas Sastra ke arah yang lebih baik. Drs Mujid Farihul Amin MPd sebagai PD III yang membidangi masalah kemahasiswaan, misalnya, mengatakan bahwa program kerja yang hendak dilaksanakannya adalah melanjutkan program PD III sebelumnya yang belum terealisasi. PD III yang baru ini ingin menghidupkan kembali kegiatan kemahasiswaan (UKM/HMJ/HMPSD) yang kurang aktif maupun yang vakum.
Menurut Mujid yang juga menjadi dosen Sastra Indonesia itu, keberadaan UKM/HMJ sebenarnya untuk menunjang kegiatan akademik. Dari sana mahasiswa dapat mengembangkan minat dan bakatnya. Oleh karena itu, ia mengharapkan agar kegiatan kemahasiswaan bisa mulai diaktifkan kembali. Ia menjelaskan, ada sekitar 15 UKM/HMJ, namun hanya beberapa saja yang masih aktif.
Mendapati kondisi demikian, segera saja Mujid mengambil inisiatif. Menjelang Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) 2007 belum lama ini, ia mengundang para fungsionaris UKM/HMJ/HMPSD untuk membahas persiapan PMB. Dalam forum itu dibahas program kerja yang telah dan akan dilaksanakan oleh masing-masing organ intra kampus itu. Dari sana dapat diketahui kendala-kendala yang menghambat jalannya program kerja organisasi selama ini.
Ada yang menyampaikan bahwa kelesuan kegiatan mahasiswa karena tidak adanya Ospek. Hal ini ditengarai telah menurunkan semangat mahasiswa baru untuk terlibat dalam kegiatan UKM/HMJ/HMPSD. Sebagai jalan keluarnya, diusulkan agar UKM/HMJ/HMPSD diberi waktu khusus untuk memperkenalkan organisasinya kepada mahasiswa baru karena jatah waktu yang diberikan selama ini dinilai masih terlalu singkat.
Namun dari pihak PD III menyampaikan bahwa format PMB sudah ada acuan resmi dari rektorat sehingga tidak bisa diubah. Akhirnya disepakati jatah alokasi waktu perkenalan UKM/HMJ/HMPSD ditambah. Penambahan tersebut dimaksudkan agar perkenalan bisa lebih efektif, sehingga mahasiswa baru dapat lebih mengenal profil UKM yang diminati.
PD III juga menyampaikan kabar akan pindahnya kampus Sastra ke Tembalang pada tahun 2009. Dengan lahan yang lebih luas dan juga fasilitas pendukung kemahasiswaan yang lebih memadai, diharapkan kegiatan kemahasiswaan bisa lebih digencarkan.
“Sekarang untuk mengadakan event menjadi harapan yang masih dalam angan-angan semata. Dilematis. Mau diadakan di area parkir Sastra, banyak komplain dari berbagai pihak. Entah itu masalah parkir atau kegaduhan, sehingga mengganggu perkuliahan. Kalau nekat diadakan, nantinya pasti banyak dosen yang mendatangi saya,” ujar Mujid.
Sementara itu jika kegiatan diadakan pada hari Sabtu atau Minggu, dikhawatirkan hanya sedikit mahasiswa yang mau datang. “Lha wong diadakan hari aktif saja antusias dari peserta sedikit,” tambah Mujid.
Seperti yang terjadi dalam Expo Universitas (5-6/9) di Auditorium Imam Bardjo, sebagian peserta yang datang malah dari teman-teman UKM/HMJ sendiri. Mahasiswa baru yang datang, minim sekali. Padahal sudah ada edaran dari universitas yang mewajibkan mahasiswa baru hadir dalam kegaiatan ekspo.
Keterbatasan tempat menjadi kendala tersendiri. Memakai ruang kelas pada hari efektif kuliah, jelas sangat sulit mengingat jumlah ruang kelas untuk kuliah saja sudah sangat terbatas. Satu-satunya tempat yang bisa dipakai untuk kegiatan adalah Joglo Sastra. Namun jika ingin mengadakan kegiatan yang melibatkan banyak audien lagi-lagi juga terkendala oleh masalah parkir. Belum lagi masalah kebisingan dan lalu-lalang kenderaan di seberang jalan yang bisa mengganggu jalannya kegiatan.
“Mau pinjam wireless buat pengeras suara, itu juga kalau tak dipakai untuk kuliah. Jujur, kadang pihak TU sepertinya mempersulit mahasiswa untuk meminjam peralatan atau ruangan. Padahal alat atau ruangan itu jelas-jelas tak dipakai. Kita sudah dapat ACC dari PD II, lagian acara juga pada hari Minggu, katanya mau dipakai untuk kuliah S2. Tapi setelah besoknya kami cek, nggak ada mahasiswa S2 kuliah,” tutur salah seorang aktivis UKM yang tidak mau disebutkan namanya itu dengan nada kecewa.
Jika memang benar demikian, maka sudah seharusnya PD III menjalin koordinasi dengan sejumlah pejabat terkait agar kejadian semacam itu tidak terulang. Menyewa peralatan atau tempat dari luar untuk kegiatan bagi UKM/HMJ/HMPSD jelas bukan satu hal yang mudah mengingat alokasi dana yang juga terbatas. Lagian jika memang ada fasilitas dari kampus yang bisa digunakan untuk kegiatan mahasiswa, kenapa tidak digunakan.
Asumsi bahwa kelesuan kegiatan mahasiswa disebabkan karena kemalasan dari pihak mahasiswa sendiri barangkali ada benarnya. Namun apakah ini benar faktor satu-satunya, belum tentu. Misalnya ada masalah lain, kurikulum baru yang membuat mahasiswa dikejar dengan sejumlah target dan jadwal kuliah yang makin padat, atau failitas pendukung kegiatan yang masih minim.
Dengan kondisi demikian ini PD III yang ingin menghidupkan kembali kegiatan mahasiswa perlu berkoordinasi dengan beberapa pihak terkait. Semoga saja langkah ini dapat kembali menghidupkan kegiatan mahasiswa yang dalam beberapa waktu terakhir ini matisuri.****
*Ilustrasi oleh Fathoni. Mantan pengelola Hayamwuruk. Kini menjadi ilustrator di Koran Seputar Indonesia (Sindo) Jakarta.
Sandal Jepit, Kaos Oblong dan Birokrasi
Oleh Kresno W
Konon, ketika kita memasuki jenjang perguruan tinggi, kita akan memiliki banyak kebebasan yang tidak kita miliki ketika masih duduk di bangku sekolah. Di antaranya kebebasan berbicara dan kebebasan dari belenggu-seragam.
Berbicara tentang kebebasan, filusuf Jean Paul Sartre pernah mengatakan bahwa manusia dikutuk untuk bebas. Menurut pemahaman saya, bebas di sini adalah bebas untuk mengaktualisasikan diri dan berani bertanggung jawab atas apa yang dilakukan.
Jika benar di pendidikan tinggi (universitas) setiap individu memiliki kebebasan, mengapa ketika mahasiswa hendak memasuki kantor para birokrat kampus, mereka dihadapkan dengan tulisan yang berbunyi “Dilarang memakai kaos oblong dan bersandal jepit“.
Apa salahnya jika seorang mahasiswa pergi ke kampus memakai sandal jepit dan berkaos oblong?
Jika alasannya karena tidak sopan, di mana letak ketidaksopanannya itu? Apakah karena bersandal jepit ke kampus diasosiasikan dengan pergi ke kamar mandi atau WC? Ingat, sandal jepitlah yang melindungi kaki puluhan juta umat muslim di negeri ini dari panasnya aspal ketika mereka hendak menunaikan sholat Jum'at di masjid?
Selayaknya pihak birokrasi kampus sadar dan bijak bahwa tidak ada hubungannya sama sekali antara sandal jepit dengan tingkat kecerdasan seseorang. Di sinilah terjadi sebuah pembelokan. Dari sebuah penghormatan terhadap perkuliahan, menjadi penghormatan terhadap individu birokrasi.
Jika pihak birokrasi merasa terhina oleh mahasiswa yang bersandal jepit dan kaos oblong, maka sebenarnya rasa keterhinaannya itu adalah perasaan pribadi dari para individu birokrasi. Karena sesungguhnya mahasiswa yang memakai sandal jepit dan kaos oblong itu belum tentu ingin menghina orang lain dan berniat untuk mengganggu jalannya kegiatan perkuliahan.
Apalah guna seorang mahasiswa yang berpakaian necis, rapi, dan perlente, tetapi dalam kehidupan bermasyarakat kelakuannya membuat orang lain menjadi jengkel?
Lebih relevan mana “Dilarang Membuang Sampah di Sungai” atau “Dilarang Memakai Sandal Jepit dan Berkaos Oblong di Kampus“?
Larangan yang pertama dapat di terima oleh akal sehat. Bila kita membuang sampah secara sembarangan di sungai akan menyebabkan banjir dan kerusakan ekosistem air sungai yang akan merugikan orang banyak.
Bagaimana dengan larangan yang kedua? Jika memang ada hasil penelitian yang menyatakan memakai kaos oblong dan bersandal jepit di kampus dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin, pasti tidak akan ada yang memakai sandal jepit dan kaos oblong di kampus.
Sangat disayangkan, universitas sebagai barisan terdepan demokrasi justru di dalamnya memberlakukan pembatasan-pembatasan yang tidak logis. Dalam konteks berpakaian, semestinya tidak ada larang-melarang karena hal tersebut merupakan aktualisasi diri yang akan membimbing sesorang menuju kedewasaan, baik itu bagi pemakai ataupun orang yang melihatnya.
Jika batasan akan kesopanan itu sendiri masih problematis, lalu bagaimana mungkin kesopanan yang sifatnya sangat subyektif itu dipakai untuk aturan yang bersifat kolektif?
Saya tak sedang menganjurkan anda untuk memakai sandal jepit maupun kaos oblong. Saya tidak akan memaksa anda untuk menuruti keinginan saya. Jika dengan memakai sandal jepit anda justru merasa tidak nyaman, atau anda merasa lebih percaya diri dengan berkemeja, maka jangan memakai kaos atau sandal jepit. Lakukan saja sesuatu yang membuat anda nyaman.
Sebaliknya jika anda sebenarnya lebih merasa nyaman dengan mengenakan kaos, atau tidak nyaman dengan sepatu, maka anda harus melawan karena merasa nyaman itu adalah hak setiap orang. Jika ada yang merasa tidak nyaman dengan penampilan anda, tanyakan apa alasannya.
Pelarangan sandal jepit dan kaos oblong hanyalah sebuah contoh betapa birokrasi itu sangat membelenggu kreativitas. Karena birokrasi kita harus berperilaku begini dan begitu. Sadarkah kita, hidup dalam lingkaran macam ini otak kita telah dibelenggu. Birokrasi adalah tangan-tangan manusia yang masing-masing punya kepentingan, tidak bersih dari nafsu, ia bukan wahyu yang turun dari tuhan, lalu kenapa harus dikeramatkan. Mari kita melawan!
*Penulis adalah mahasiswa jurusan Ilmu Sejarah 2006. Reporter Newsletter Hawe Pos. Ketua Historian Community (HC), HMJ Sejarah FS Undip.